Subscribe to my RSS feed RSS
July 10, 2008

Kuda Nil

Berikut tentang satwa yang hampir punah,
ayo kita cegah satwa punah sekarang juga :

Kuda nil (Hippopotamus amphibius) adalah mamalia dari keluarga Hippopotamidae yang berukuran besar. Berasal dari Afrika. Kuda nil adalah hewan herbivora. Mereka tinggal berkelompok, dan terkadang 30 kuda nil akan tinggal di tempat yang sama. Mereka tidur di lumpur dan air, namun di malam hari mereka keluar untuk makan rumput.

Di kawasan tropis, kuda nil menjadi hewan terancam punah karena populasi mereka di Republik Demokratik Kongo menurun drastis sebanyak 95% dalam satu dekade.

Kekacauan politik negeri itu memberi peluang para pemburu gelap untuk beraksi memburu daging dan gigi kuda nil yang mengandung gading itu.

“Konflik regional dan instabilitas politik di sejumlah negara Afrika menciptakan kondisi yang tidak menguntungkan bagi habitat hewan-hewan di Afrika. Dan akibatnya memang sangat menghancurkan,” kata ilmuwan IUCN, Jeffrey McNeely.

Penurunan jumlah kuda nil di RD Kongo ini menjadikan hewan ini masuk daftar satwa terancam punah meski jumlah kuda nil di negara lain seperti Zambia masih sangat bagus.

Jenis kuda nil yang kurang dikenal seperti kuda nil pygmi sangat terpengaruh populasinya akibat illegal logging dan kurangnya perlindungan di beberapa negara Afrika Barat.

June 23, 2008

Daftar Satwa Terancam Punah

Berikut artikel menarik yang ditemukan tim cegah satwa punah tentang beberapa satwa yang terancam punah,
berikut artikel nya :

The World Conservation Union (IUCN) pada tahun 2007 ini kembali mengeluarkan daftar satwa yang terancam punah. Satwa-satwa tersebut masuk ke dalam daftar satwa terancam punah karena adanya penurunan jumlah populasi secara drastis. Dalam perkembangan laporannya yang berjudul Red List of Threaten Species, IUCN mengatakan bahwa 40 persen dari satwa-satwa yang terdaftar dari seluruh dunia tersebut dalam keadaan terancam punah. Sampai tahun 2006 saja, laporan yang memuat kerawanan kehidupan satwa liar ini terus bertambah hingga lebih dai ribuan dan sekarang berjumlah 41.415. Tahun 2007 ini terdapat tujuh satwa yang masuk dalam Red List. Satwa-satwa tersebut beragam mulai dari primata, burung, reptil, mamalia air, ikan sampai koral.


  • Western Lowland Gorilla
    , merupakan salah satu dari satwa yang masuk dalam Red List of Threaten Species. Banyak primata besar yang masuk ke dalam daftar tersebut seiring dengan habitatnya yang terancam oleh keberadaan manusia. Populasi western lowland gorilla ini menurun drastis di Afrika Tengah akibat adanya kegiatan perdagangan daging dan virus ebola.


  • Baiji/Chinese River Dolphin
    , yang telah dinyatakan oleh para ilmuwan sebagai functionally extinct pada bulan Desember tahun lalu, mengalami downgrade dari status ‘endangered’ menjadi ‘critically extinct’. Populasi binatang berwarna abu-abu-biru cerah ini telah menurun drastis selama 30 tahun belakangan ini. Lumba-lumba ini hidup di Sungai Yangtze di Cina yang telah berpolusi. Lumba-lumba airtawar sangat rawan karena sungai sering sekali dipakai oleh manusia untuk berbagai keperluan dan tidak ada tempat lain untuk lumba-lumba airtawar tersebut pergi.


  • Egyptian Vulture
    , lima spesies dari burung pemangsa, termasuk Egyptian, telah direklasifikasi ke tingkat keterancaman yang lebih tinggi semenjak tahun 2006. Asian Vultures, telah mengalami penurunan populasi secara drastis selama delapan tahun belakangan akibat penggunaan livestock drug seperti Diclofenac. Sedangkan African Vultures, masih berjuang hidup melawan berkurangnya habitat dan kekurangan makanan.


  • Santa Catalina Island Rattlesnake
    , ular ini hanya ditemukan di satu pulau saja dan memiliki corak kulit yang menarik sehingga banyak diburu oleh para pemburu untuk dikoleksi. Survey reptile terbaru mengungkapkan adanya kerawanan satwa reptil, seperti misalnya, survei reptile Amerika Utara telah mendaftar sebanyak 738 spesies reptile di kawasan tersebut. Penyebab utama dari penurunan populasi satwa tersebut adalah berkurangnya habitat akibat adanya perluasan kota.


  • Banggai Cardinal Fish
    , kepopularan ikan ini sebagai binatang peliharaan di rumah telah menghantarkannya ke dalam daftar merah satwa-satwa terancam punah. Di alam, ikan bergaris ini hanya ditemukan di kepulauan Banggai, Indonesia. Kegiatan manusia seperti perdagangan ikan akuarium merupakan alasan utama dari menurunnya jumlah populasi ikan ini. Selain itu, berkurangnya habitat dan perubahan iklim juga merupakan ancaman yang potensial. Jumlah ikan mengalami penurunan di seluruh belahan dunia karena penangkapan ikan yang berlebihan dan perdagangan ikan hias.


  • Gharial
    , binatang sejenis reptile ini merupakan satwa yang paling menonjol dalam laporan IUCN tiap tahunnya. Terlepas dari penampilannya yang mengerikan dan panjangnya yang dapat mencapai 19 kaki atau 6 meter, Indian gharial bukanlah pemakan manusia dan lebih menyukai ikan sebagai makanan utamanya. Moncongnya yang panjang dan runcing yang dapat mudah dibedakan dari buaya, memungkinkan mereka untuk menangkap ikan dengan mudah. Berkurangnya habitat dan perburuan telah mendorong berkurangnya populasi reptile ini.


  • Corals
    , untuk pertama kalinya masuk ke dalam daftar merah satwa terancam punah tahun 2007. Survei ilmuwan saat ini di kepulauan Galapagos telah memasukkan sepuluh jenis koral ke dalam daftar, termasuk jenis koral Floreana. Pada tahun 1980-an, pola cuaca El-Nino yang menyebabkan fluktuasi dari temperature lautan, mengakibatkan memburuknya kondisi koal di kepulauan Galapagos. Beberapa ilmuwan bahkan mengkhawatirkan pemanasan global akan menyebabkan fenomena El-Nino akan semakin sering terjadi dan mencegah koral untuk pulih kembali. Sampai sekarang, ilmuwan belum secara lengkap mengukur keadaan koral tropis dunia. Para ilmuwan memperkirakan bahwa kegiatan manusia seperti polusi, pemanasan global dan sedimentasi akan membunuh 30 persen dari populasi koral di dunia dalam tiga decade ke depan. Karang koral di Samudera Pasifik dan Hindia misalnya, telah menghilang lebih cepat dibandingkan hutan hujan.

Red List of Threaten Species 2006

Empat puluh persen dari spesies yang telah diketahui dikhawatirkan terancam kepunahan. Termasuk seperempat dari pohon konifera, seperdelapan dari jenis burung, dan sepertiga dari jenis amfibi. Selain itu, seperempat mamalia juga masuk ke dalam daftar satwa terancam punah. Pada laporan tahun 2006, untuk pertama kalinya beruang kutub dan kudanil diperkirakan terancam punah. Menurut IUCN, beruang kutub merupakan satwa yang akan paling terkena dampak dari pemanasan global, di mana es kutub yang menjadi tempatnya mencari makanan mencair. Tanpa cukup es, beruang kutub terancam terjebak dalam pulau es, dan mereka akan mengalami kelaparan atau tenggelam karena berusaha berenang dalam jarak jauh.

Pada awal tahun 2006, U. S. Fish and Wildlife Service telah memperkirakan untuk memasukkan beruang kutub ke dalam daftar spesies yang terancam punah. Berbeda dengan beruang kutub, kudanil mengalami penurunan populasi yang lebih cepat. Kudanil telah mengalami penurunan sebanyak 95 persen di Republik Demokratik Kongo semenjak tahun 1994, di mana tinggal 30.000 yang masih ada di alam. Kudanil dikelompokkan sebagai satwa yang rawan karena adanya perburuan ilegal di negara-negara bekas perang.

Sumber: National Geographic News dan Stayaware.wordpress.com

June 23, 2008

Satwa Langka Sumatra Terancam Punah

Saat ini, banyak satwa langka sumatra yang mulai terancam punah,
satwa langka yang hanya hidup di sumatera, seperti Harimau Sumatera, Gajah Sumatera dan orang utan,
ketiga satwa yang dulunya banyak hidup di sumatera,
saat ini sudah dalam keadaan yang menggenaskan,
seperti gajah sumatera contohnya di jambi ditemukan 4 bangkai gajah sumatera,
dugaan awal keempat gajah tersebut merupakan korban pemburu liar yang sengaja di racun hingga tewas.

Selain itu populasi gajah sumatra juga dalam ambang batas yang mengkhawatirkan,
saat ini saja di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) populasi satwa berbada besar ini hanya tinggal antara 50-70 ekor,
penyebab utama adalah akibat ulah manusia merusak hutan dan mengkonversi lahan hutan untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit besar-besaran, juga perburuan liar yang tak bertanggung jawab,
sebagai warga negara yang baik sudah seharusnya kita melindungi satwa langka tersebut dari kepunahan,
untuk itu bersama kita cegah satwa punah.

June 17, 2008

Ratusan Satwa Indonesia Terancam Punah

Saat ini keadaan satwa liar di indonesia semakin terancam,
jika tak dicegah satwa punah ini akan benar-benar punah,
karena saat ini hampir ratusan satwa langka indonesia sudah terancam punah,
satwa langka tersebut terdiri dari 147 jenis mamalia, 114 jenis burung, 28 jenis reptil, 91, jenis ikan dan 28 jenis invertebrata.

Bahkan orang utan kini juga semakin memprihatinkan keadaanya,
karena saat ini satwa langka ini dijual sangat murah yaitu Rp. 50/Ekor
dan dijual keluar negri dengan harga lebih dari 3 juta,
untuk itu marilah kita hentikan perdagangan satwa langka ini,
ayo bersama kita cegah satwa punah.

June 13, 2008

Harrison Ford pun Ikut Serta

Sudah seminggu ini PSA( Public Service Ads) atau iklan layanan masyarakat untuk menghentikan perburuan liar,
iklan yang dibawakan oleh Harrison Ford yang merupakan bintang Hollywood ternama,
yang membintangi film-film box office seperti Indiana Jones,
dia menyerukan agar melindungi satwa langka dari kepunahan,
melindungi satwa-satwa yang menjadi komoditi utama para pedagang black market.

Klo artis ternama bisa menyerukan hal tersebut,
tentu kita pun juga bisa melakukannya,
ayo bersama kita cegah satwa punah.

May 27, 2008

Elang Jawa

Burung Garuda merupakan lambang negara Indonesia,
tahukah anda satwa ini terancam punah ?
burung garuda dianggap oleh para ahli merupakan satwa endemik yang hidup di indonesia atau lebih dikenal dengan nama Elang Jawa,
Elang jawa mempunyai nama ilmiah yaitu Spizaetus bartelsi (Javan Hawk-Eagle),
masyarakat Jawa menamai satwa ini dengan nama burung Garuda adalah istilah yang menunjukkan genus Spizaetus atau dalam Bahasa Inggris disebut Hawk-Eagle,
elang jawa terdiri dari 4 species yaitu Brontok Spizaetus cirrhatus,Spizaetus bartelsi streseman,Spizaetus bartelsi dan Spizaetus cirrhatus lineatus,
saat ini satwa langka ini masuk dalam jajaran satwa terancam punah dalam buku Shannaz et al 1994 (Burung-Burung Terancam Punah di Indonesia),dinyatakan bahwa status jenis ini di alam berada dalam kategori kritis (en dangered), atau dengan kata lain terjadi penurunan populasi lebih dari 50 persen selama 10 tahun atau dengan kata lain populasinya di habitat alami di dunia kurang dari 250 individu.

Untuk itu marilah kita bersama menjaga kelestarian satwa ini,
dan lindungi mereka agar terhindar dari kepunahan,
ayo bersama kita cegah satwa punah.

May 27, 2008

Banyak Satwa Terancam Punah

Kali ini tim cegah satwa punah yuk menemukan sebuah artikel menarik,
dimana banyak satwa-satwa langka yang terancam punah, seperti beruang kutub dan kuda nil,
selain dua satwa tersebut masih banyak satwa lain yang juga terancam punah,
untuk lebih lengkapnya silahkan baca artikel dari kompas dibawah ini :

( Kompas, Kamis 01 Juni 2006 )
Beruang kutub dan kuda nil untuk pertama kalinya tercatat sebagai spesies yang terancam punah oleh badan keanekaragaman dunia. Kedua hewan itu masuk dalam Daftar Merah Spesies Terancam, yang dipublikasikan oleh World Conservation Union (IUCN), bersama dengan sekitar 1.600 spesies lainnya.

Selain itu, berbagai jenis hiu serta ikan-ikan air tawar di Eropa dan Afrika yang dahulu tidak masuk daftar, kini tercatat akibat populasinya yang semakin kecil.
Menurut IUCN, menurunnya keanekaragaman spesies ini akan terus meningkat bila tidak diambil tindakan secara global untuk menghambatnya.

“Daftar Merah 2006 menunjukkan tren yang jelas, yakni keanekaragaman hayati menghilang dengan cepat, bukan melambat,” ujar direktur jenderal IUCN, Achim Steiner.

Secara keseluruhan, 16.119 spesies masuk dalam Daftar Merah tahun ini, yang merupakan survey paling mendetail dan bisa dipercaya mengenai kondisi tanaman dan hewan di Bumi. Survey mencakup lebih dari sepertiga dari semua spesies yang ada, atau sekitar satu dari tiga amfibi yang ada, seperempat pohon coniferus, dan satu di antara empat mamalia.

“Semakin banyak spesies yang kami daftar, makin banyak pula spesies terancam yang kami temukan,” kata Jean-Christophe Vie, wakil koordinator program spesies IUCN. “Dan karena untuk mendata seluruh spesies butuh usaha lebih besar, maka angka 16.000 ini mungkin hanya menunjukkan sebagian kecil saja dari masalah sebenarnya.”

Iklim, perusakan, dan perburuan
Beruang-beruang kutub secara khusus terpengaruh oleh hilangnya es di kutub, yang oleh IUCN disebut sebagai pengaruh perubahan iklim. Hewan-hewan ini membutuhkan es untuk bisa berburu anjing laut dan hewan lain. Tanpa es, kemampuan berburu mereka akan turun. Ada pula bukti bahwa gua-gua es yang menjadi tempat membesarkan anak mulai mencair tahun ini.

Beruang kutub terdaftar sebagai Vulnerable to Extinction atau spesies yang terancam punah, berdasar perkiraan bahwa populasi mereka akan turun 50 persen hingga 100 persen dalam waktu 50 hingga 100 tahun mendatang. Di wilayah tropis, kuda nil masuk daftar merah untuk pertama kali karena populasi hewan ini di Republik Demokrasi Kongo turun secara pesat hingga sekitar 95 persen dalam satu dekade.

Situasi politik negara yang bergejolak menyebabkan kurangnya pengawasan terhadap perburuan kuda nil, yang seringkali dibantai untuk diambil daging dan giginya. “Konflik regional dan ketidakstabilan politik di beberapa negara Afrika telah menciptakan situasi sulit bagi banyak penduduk, dan akibatnya pada kehidupan liar sungguh merusak,” kata ilmuwan IUCN Jeffrey McNeely.

Penurunan populasi kuda nil di Kongo ini menyebabkan jenis hewan itu masuk dalam daftar terancam walau populasi di negara Afrika lain, termasuk populasi terbesar di Zambia, berkembang cukup baik.

Sementara itu, jenis kuda nil kerdil yang kurang dikenal juga terancam karena banyaknya penebangan liar serta sedikitnya perlindungan terhadap mereka di beberapa negara Afrika Barat. Ini menyebabkan status mereka meningkat dari Vulnerable (beresiko punah) menjadi Endangered (terancam punah).

Menurunnya populasi karena kerusakan habitat ini dialami oleh banyak sekali hewan. Yang bisa ditemukan di Indonesia antara lain kerusakan hutan di banyak tempat yang mengancam populasi orangutan, harimau, gajah, dan banyak lainnya.

Ancaman di udara dan kepedihan di air
Selain hewan-hewan darat, banyak jenis burung kini mengalami peningkatan ancaman punah yang lebih besar. Di samping karena wabah flu burung, kerusakan habitat dan kondisi lingkungan yang tidak sehat telah menjadi ancaman utama bangsa unggas.

Termasuk dalam daftar merah IUCN untuk pertama kalinya adalah burung godwit ekor hitam, jenis yang populer di kalangan pengamat burung Inggris dan Eropa. Spesies ini digolongkan sebagai Nyaris Terancam Punah.

“Burung ini mengikuti dua spesies Inggris lain yang masuk dalam daftar merah, yakni burung corncrake dan layang-layang merah,” kata Grahame Madge, juru bicara Royal Society for the Protection of Birds (RSPB).

Untuk pertama kalinya pula, daftar merah memasukkan data-data komprehensif mengenai kondisi hewan-hewan laut. Di sana terlihat bahwa ikan-ikan hiu dan pari - anggota grup ikan elasmobranch - lenyap dalam laju yang mengerikan di seluruh dunia.
Sekitar 20 persen dari 547 spesies yang disurvey berada dalam populasi yang tidak sehat dan mengancam kelestarian mereka. Hiu malaikat (angel shark) bahkan dinyatakan punah dari Laut Utara, dan berada dalam kondisi Sangat Terancam Punah di seluruh dunia.

“Situasi menyedihkan yang dihadapi hiu-hiu dan ikan-ikan pari ini hanyalah ujung gunung es dari keseluruhan masalah,” kata Craig Hilton-Taylor dari IUCN Red List Unit.
“Jadi sungguh sangat penting untuk mengambil tindakan konservasi, seperti pengaturan wilayah-wilayah bebas pengambilan ikan dan batasan-batasan penangkapan sebelum semua terlambat.”

Di wilayah Mediterania, ikan-ikan air tawar menghadapi nasib yang lebih buruk dibanding rekan-rekannya di laut. Lima puluh enam persen dari 252 spesies endemik di Mediterania terancam punah, menurut IUCN. Sedangkan di Afrika Timur, seperempat ikan air tawar beresiko punah.

Secerah harapan
Namun tidak semua yang tercantum dalam laporan ini berisi kesedihan. Catatan optimis yang pertama adalah kenyataan bahwa jumlah spesies yang masuk dalam daftar merah tidaklah berbeda jauh dari daftar sebelumnya di bulan November 2004, yang menyatakan ada 15.589 spesies terancam.

Selain itu, jumlah spesies yang diyakini telah punah sejak 500 tahun terakhir tidak bertambah. Ini adalah suatu fakta bahwa usaha konservasi bukan sesuatu yang sia-sia.
Beberapa spesies bahkan turun kelasnya menjadi jenis yang tidak lagi terancam punah, seperti elang ekor putih yang populasinya bertambah lagi.
Sayang sekali cerita sukses itu tidak banyak, dan pesan utamanya tetap merupakan peringatan bahwa keanekaragaman di Bumi terus menurun. Dan semuanya tergantung pada kita, apakah kita akan membiarkan itu semua musnah bersama Bumi ini.

Untuk itu marilah kita bersama menjaga kelestarian satwa-satwa tersebut,
dan menghindari kepunahan mereka,
jangan sampai mereka punah, ayo cegah satwa punah sekarang juga.

May 25, 2008

Monyet Mentawai

Tim cegah satwa punah yuk mengajak anda untuk mengenal satwa liar,
selain ongka, masih banyak satwa endemik yang hidup di daerah mentawai,
tepatnya di pulau siberut,
satwa-satwa tersebut antara lain Bokkoi (Macaca siberu), Joja (Presbytis potenziani), Bilou atau siamang kerdil (Hylobates klosii), dan Simakobu (Nasalis concolor),
keempat satwa tersebut hanya ada di pulau siberut,
dan tidak ada di daerah lain,
diantara keempat satwa teresebut Bilou adalah mamalia darat yang mempunyai suara 7 Oktaf,
dan juga mempunyai nyanyian terindah,
biasanya bilou menyanyi di pagi hari.

Keempat satwa diatas hidup berdampingan di hutan Paleonan,
keempatnya hidup damai,mulai dari tempat tinggal, dan berbagi makanan,
walaupun mereka dari species yang berbeda,
sekian laporan tim cegah satwa punah yuk,
artikel di rangkum dari padangkini.com.

May 25, 2008

Katak Panah Beracun

Katak panah beracun atau Poison dart frog merupakan katak beracun yang hidup di Amerika selatan,
satwa unik ini termasuk dalam keluarga Dendrobatidae,
unik karena satwa ini mempunyai warna yang beraneka ragam,
dan warna tersebut menandai kalau mereka adalah satwa beracun.

Katak panah beracun ini merupakan satwa dengan racun paling mematikan di dunia,
satwa ini biasanya hidup di daerah tropis seperti di Hawaii, Bolivia, Costa Rica, Brazil, Ecuador, Venezuela, Suriname, French Guyana, Peru, Panama, and Nicaragua,
saat ini para peneliti sedang meneliti racun satwa ini untuk dijadikan obat di dunia kesehatan.

Referensi artikel dari Wikipedia oleh cegah satwa punah.

May 24, 2008

Ongka

Ongka, satwa langka endemik dari pulau mentawai,
satwa langka ini merupakan satwa yang terancam punah,
ongka adalah hewan yang mirip dengan siamang,
tapi memiliki beberapa perbedaan, yaitu bulu badannya bewarna merah keemasan,
dan mempunyai bulu lebat di wajah,
data tentang satwa unik ini belum banyak,
tapi yang pasti satwa ini mempunyai kebiasaan seperti siamang,
yaitu mengeluarkan lengkingan jika merasa terancam atau untuk memanggil pasangan,
saat ini satwa langka ini hanya tinggal beberapa saja,
dan sedang dalam masa penangkaran,
untuk dikembangbiakan serta dilepas ke alam bebas nantinya,
ayo bersama kita cegah satwa punah.